
Membaca Al Quran ibarat membangun sebuah rumah, bukanlah ada pada fondasi rumah, pula bukan dinding, tiang rumah, bahkan atap rumah. Konstruksi dasar rumah jika dikaitkan dengan agama adalah rukun Islam. Lima dasar tersebut, syahadah, shalat, zakat, puasa dan haji, adalah pilar dalam pembangunan rumah. Islam belum sempurna apabila kelima dasar tersebut tidak terpenuhi. Belum bisa dikatakan kokoh apabila fondasi, dinding, atap, tiang-tiang, serta genting tidak ada. Satu unsur aja diantara kelima elemen ini tidak terpenuhi, rumah tidak bakal berdiri. Bayangkan jika rumah tanpa atap? Sama hanya rukun iman tanpa zakat. Belum lengkap.
Membaca Al Quran adalah dalam upaya memperindah bangunan rumah apabila sudah berdiri. Agar nampak indah, bangunan rumah tersebut bisa saja dindingnya perlu dicat warna Krem. Sejumlah perkakas rumah tangga, kulkas, mesin cuci, hiasan dinding, korden, meja kursi, tempat tidur, bahkan menanam bunga di halaman perlu dipikirkan agar rumah tersebut bukan hanya nyaman ditempati, namun indah dipandang.
Tidak jarang si pemilik rumah sudah puas dengan berdirinya rumah saja. Barangkali dia tidak perlu meja kursi meski yang namanya tamu akan sering datang. Jika tamu datang, bukankah tuang rumah akan kerepotan? Mereka tidak membutuhkan almari makan karena sekali masak langsung dihabiskan. Jika saja ada sisa makanan akan disimpan sembarangan tempat. Kalau kondisi didalam rumah tidak mendapatkan perhatian yang cukup, apalagi keadaan halaman. Jangankan menanam bunga, membersihkannya saja barangkali jarang dilakukan.
Demikian pula halnya agama. Menjalankan kewajiban yang ada dalam rukun Islam saja belum cukup. Kita diajak untuk membangun silaturahmi, menyebarkan salam, berbuat baik pada tetangga dan sanak keluarga, berbelas kasih kepada anak yatim dan orang miskin, membantu teman yang membutuhkan, menggali dan menularkan ilmu dan ketrampilan yang kita punya, berdakwa, atau membaca Al Quran, hingga mencuci pakaian dan membersihkan rumah.
Aspek-aspek diatas jika mendapatkan cukup perhatian akan nampak keharmonian kehidupan muslim ditengah-tengah masyarakat, sebagaimana indahnya rumah ditengah lingkungannya. Orang-orang yang berlalu- lalang di sekitar rumah akan mengagumi keindahannya. Walupun bukan kekaguman itu tujuan membangun rumah. Tujuan membangun Islam juga bukan untuk dikagumi.
Kebanyakan diantara kita menganggap bahwa toh kita sudah melaksanakan shalat, zakat, puasa, atau haji. Misalnya, shalat berjamaahpun tidak mendapatkan tekanan yang cukup. Akibatnya, jika shalat identik dengan tiang rumah, maka bangunan rumah tersebut rapuh. Bila ada 100 rumah dalam satu kampung, kenyataannya tidak ada satupun yang kokoh. Sebaliknya rumah-rumah tersebut ternyata rawan keropos. Demikian halnya dengan kondisi kita umat Islam saat ini, sudah kondisinya kurang solid, ditambah lagi mudah dirongrong dari luar. Diperlukan integrasi yang paripurna agar nampak bahwa pengikutnya menjadi suatu komunitas yang kokoh, dalam arti tidak hanya menyangkut praktek ubudiah, namun juga amalia.
Membaca Al Quran saja, memang belum cukup. Sama halnya mengecat sebuah rumah. Rumah tidak akan nampak cantik hanya karena warna catnya. Islam belum akan nampak indah hanya karena umatnya membaca ayat-ayat suci Al Quran. Islam lebih bersifat praktis. Apa yang diajarkan, wajib dipraktekan. Akan terdapat ketimpangan jika di sekolah kita mendapatkan teori, namun disaat kerja kita ternyata tidak pernah mepraktekan teori tersebut. Disaat shalat kita membaca salam (usai membaca takhiyat akhir, ditutup dengan 'Assalamu'alaikum warahmatullah ', dua kali, sambil menoleh arah kanan kemudian ke kiri). Ironisnya selesai shalat, kita tidak pernah tahu siapa yang ada di samping kiri dan kanan kita. Apalagi yang namanya memberi salam. Kita tidak pernah tahu siapa tetangga disebelah rumah kita, apalagi yang namanya menawarkan bantuan. Meski shalat 5 waktu, puasa, zakat, dan haji kita lakukan, ternyata kita juga membuang sampah sembarangan.
Sory.. copas...



0 komentar:
Poskan Komentar